Metode Penyusutan Aset Tetap Bagaimana Cara Menjaga Nilai Barang Milik Perusahaan
Halo teman-teman! Apakah kalian pernah mendengar istilah penyusutan? Di dunia bisnis, penyusutan itu penting banget, terutama untuk aset tetap seperti mesin, komputer, atau kendaraan perusahaan. Tapi, apa sebenarnya penyusutan itu, dan bagaimana caranya menghitung penyusutan dengan mudah, ada apa saja metode penyusutan? Yuk, kita bahas dengan cara yang gampang dipahami!
Penyusutan aset tetap (depresiasi) adalah alokasi harga perolehan aset tetap kepada periode-periode akuntansi dalam masa penggunaannya. Dalam penyusutan aset tetap ada yang namanya akumulasi penyusutan adalah bukan sebuah dana pengganti aset, melainkan jumlah harga perolehan aset yang telah dibebankan (melalui pemakaian) dalam periode-periode sebelumnya. Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aset.
Kenapa kita perlu menghitung penyusutan? Karena ini membantu perusahaan untuk tahu berapa nilai sebenarnya aset tetap mereka setiap tahun, sehingga bisa membuat keputusan yang lebih baik tentang kapan harus mengganti atau memperbaiki barang tersebut.
Ada 4 faktor yang menentukan besarnya penyusutan suatu aset
1. Harga perolehan Aset tetap
Harga perolehan Aset tetap meliputi semua pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan dan penyiapannya, sampai Aset tetap yang bersangkutan siap dioperasikan.
2. Nilai residu atau nilai sisa
Nilai residu (residual value) adalah taksiran nilai Aset tetap setelah habis masa penggunaannya.
3. Usia ekonomis atau usia manfaat
Usia ekonomis adalah taksiran masa penggunaan Aset tetap, dihitung sejak mulai dioperasikan sampai saat Aset tetap biasanya ditetapkan berdasarkan taksiran.
4. Metode penyusutan yang diterapkan
Terdapat beberapa metode penyusutan Aset tetap yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya penyusutan yang menjadi beban tiap periode akuntansi.
Ada 5 metode penyusutan yang bisa digunakan perusahaan untuk menghitung nilai suatu aset. Yuk, kita pelajari metode-metode tersebut!
1. Metode Garis Lurus
Menurut metode Garis Lurus (Straight Line Method), beban penyusutan tiap tahun penggunaan Aset tetap jumlahnya sama. Metode ini adalah yang paling sederhana dan paling sering digunakan. Sehingga jumlah penyusutan tiap tahun dihitung dengan cara Harga Perolehan Aset Tetap - Nilai Residu atau Nilai Sisa ÷ Usia Ekonomis Aset Tetap.
Contoh kita punya mobil seharga Rp 250.000.000 dengan nilai residu Rp 10.000.000 dan usia penggunaan mobil tersebut 10 tahun, maka besarnya penyusutan setiap tahun sebesar Rp 24.000.000.
2. Metode Jumlah Angka Tahun
Menurut metode jumlah angka tahun (Sum of the Years Digits Method), penyusutan untuk tiap tahun penggunaan aset tetap jumlahnya menurun. Besarnya penyusutan tiap tahun penggunaan aset tetap dihitung dengan cara sisa usia aktiva tetap dikali jumlah yang harus disusutkan dibagi jumlah angka tahun usia aktiva tetap.
Contoh kita punya sebuah laptop pada tahun 2022 seharga Rp 7.500.000 dengan nilai residu Rp 500.000 dan usia penggunaan laptop ditaksir 4 tahun, berarti cara perhitungan besarnya penyusutan pada tahun 2022 sebesar 4 × Rp 7.000.000 ÷ 10 = Rp 2.800.000. Pada tahun 2023 sebesar 3 × Rp 7.000.000 ÷ 10 = Rp 2.100.000.
3. Metode Menurun Ganda
Menurut metode menurun ganda (Double Declining Balance Method), penyusutan tiap tahun penggunaan Aset tetap ditentukan berdasarkan persentase tertentu yang dihitung dari harga buku pada tahun yang bersangkutan. Persentase penyusutan ditetapkan sebesar dua kali persentase penyusutan menurut metode garis lurus.
Contoh sebuah perusahaan membeli mesin dengan harga Rp 100.000.000. Mesin tersebut diperkirakan memiliki umur ekonomis selama 5 tahun. Yang pertama kali dihitung adalah tarif penyusutan dengan cara 2 ÷ 5 × 100% = 40 %. Untuk perhitungan beban penyusutan dengan cara 40 % × Rp 100.000.000 = Rp 40.000.000, jadi beban penyusutan di tahun 1 sebesar Rp 40.000.000 untuk tahun ke 2 perhitungannya Rp 100.000.000 - Rp 40.000.000 = Rp 60.000.000 × 40 % = Rp 24.000.000 untuk tahun ke 3 Rp 60.000.000 - Rp 24.000.000 = Rp 36.000.000 × 40 % = Rp 14.400.000.
4. Metode Satuan Jam Kerja
Menurut metode satuan jam kerja (Service Hours Method), beban penyusutan diterapkan berdasarkan jam kerja yang dapat dicapai dalam periode yang bersangkutan. Sebelum menghitung beban penyusutan ada perhitungan tarif penyusutan tiap jam kerja dengan cara harga perolehan - nilai residu ÷ taksiran jumlah jam kerja yang dapat dicapai selama masa penggunaan aset tetap. Setelah ketemu hasil nya baru bisa dihitung beban penyusutan dengan cara jam kerja yang dicapai × tarif penyusutan tiap jam kerja.
Contoh sebuah mesin diperoleh degan harga Rp 100.000.000. Mesin tersebut disusutkan menurut metode Satuan Jam Kerja. Selama masa penggunaannya ditaksir dapat dioperasikan sebanyak 30.000 jam, dengan nilai residu sebesar Rp 10.000.000. Caranya cari terlebih dahulu tarif mesin selama 1 jam dengan cara Rp 100.000.000 - Rp 10.000.000 ÷ 30.000 = Rp 3.000. Apabila selama tahun 2022 mesin dioperasikan sebanyak 8.000 jam, maka perhitungan beban penyusutan tahun 2022 adalah Rp 3.000 × 8.000 = Rp 24.000.000.
5. Metode Satuan Hasil Produksi
Menurut metode hasil produksi (Productive Output Method), sama dengan penerapan metode satuan jam kerja (jasa) yaitu didasarkan kepada faktor penggunaan.
Dalam penerapan metode satuan hasil produksi, beban penyusutan ditetapkan berdasarkan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.
Beban penyusutan suatu periode adalah hasil kali jumlah satuan produk yang dihasilkan dengan tarip penyusutan per satuan produk.
Contoh Sebuah mesin diperoleh dengan harga Rp 90.000.000. Selama masa penggunaannya ditaksir dapat menghasilkan 250.000 unit produk. Taksiran nilai residu sebesar Rp 8.000.000. Pertama hitung tarif beban tiap unit dengan cara Rp 90.000.000 - 8.000.000 ÷ 250.000 = Rp 328, ternyata pada tahun 2022 produk yang sesungguhnya dihasilkan sebanyak 20.000 unit, berarti tinggal di kali aja 20.000 × Rp 328 = Rp 6.560.000. Jadi beban penyusutan di tahun 2022 adalah Rp 6.560.000.
Menghitung penyusutan aset tetap itu sangat penting karena dapat membantu perusahaan untuk menjaga nilai Aset mereka dan membuat keputusan yang lebih baik tentang perawatan dan penggantian Aset tersebut. Ada beberapa metode yang bisa digunakan, seperti metode garis lurus, metode jumlah angka tahun, metode saldo menurun ganda, metode satuan jam kerja, dan metode satuan hasil produksi. Meskipun terdengar rumit, dengan langkah-langkah yang tepat, penyusutan bisa dihitung dengan mudah dan membantu perusahaan dalam jangka panjang.

Komentar
Posting Komentar